Tulisan Rm. Purwanto SCJ
Tulisan Rm. Purwanto
Pendampingan Kaum Migran
Pengantar
"Kami mengalami rawan pangan, banyak yang sakit dan frustrasi," ungkap seorang transmigran dari Gajah mati, OKI, asal Timor Timur. Tersentuh oleh belas kasihan karena pengaduan tersebut, saya tergerak untuk membentuk Tim Relawan Kemanusiaan Untuk Kaum Migran.
Tim Relawan Kemanusiaan Untuk Kaum Migran
Mendengar pengaduan warga transmigrasi tersebut, hatiku tergerak untuk membantu. Saya menyadari bahwa hanya punya hati yang peduli yang mendorong kuat untuk membantu mereka. Keyakinan bahwa pasti ada oranglain yang punya kepedulian yang sama, mendorong saya untuk mengajak beberapa orang membentuk Tim Relawan Kemanusiaan.
Mengapa memakai nama Tim Relawan Kemanusiaan? Pertama, saya membutuhkan teman untuk bisa bekerjasama sebagai tim. Kedua, tim ini bergerak secara murni untuk aksi kemanusiaan, yang membantu sesama manusia. Tim ini bergerak lintas agama, suku, dan golongan. Ketiga, tim ini juga mengarah pada pendampingan dan advokasi. Kebutuhan pendampingan dan advokasi ini mendesak karena beberapa hak dari para transmigran tersebut sebagai manusia tidak terpenuhi, antara lain hak untuk mendapatkan kebutuhan hidup sehari-hari, pelayanan kesehatan, kebutuhan akan tanah dan pengembangan infra sktruktur. Tim ini bergerak dalam kebersamaan baik dalam mengambil keputusan, melaksanakan rencana maupun dalam mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan.
Tim Relawan dibentuk melalui kontak personal. Berawal dengan menceritakan keadaan para transmigran Gajah Mati, saya mendapatkan teman yang berkepedulian sama. Pada awal Tim ini melibatkan Rm. L. Purwanto SCJ (Pendamping Buruh Palembang), Rm. Bonifasius Djuana Pr (Pastor Paroki St. Yoseph / PSE), Sr. M. Anthoni Sinirang FCh (Mantan Ketua PERDAKI), Sr. M. Gracia FCh (Direktur Bank Purbadanarta), Sr. M. Salvatoria FCh (Bidan Klinik Sungai Buah), Sdr. Ino Prabowo (Ketua Banjar Bangau), dan Bpk. Widodo (Pansos Pematang Panggang).
Dalam rapat perdana disadari bahwa komitmen bersama "option for the poor" harus diwujudnyatakan dengan sesegera mungkin masuk ke lokasi mengadakan investigasi. Dengan berbekal dana sharing-uang-saku masing-masing, akhirnya investigasi dapat dilakukan pada tanggal 27 – 31 November 2003. Dari sana didapatkan data yang nyata tentang keadaan para transmigran tersebut.
Tim Relawan selalu bergerak dalam kerjasama yang dinamis untuk menanggapi keadaan para transmigran yang juga berkembang, Pendampingan dilakukan dengan pola proses. Koordinasi juga dilakukan terhadap para penderma, baik pribadi, instansi ataupun yayasan tertentu. Saat ini Sekretariat Tim Relawan bertempat di Lorong Suka Senang 715 A, Jl. Kol. H. Burlian Km. 7, Palembang 30152, Telp. 0711 – 415294. Email : timrukam@yahoo.com
Karya Linta Agama, Suku, dan Golongan
"Ambil saja kesempatan ini. Sebagai SCJ, kita pantas mengambil peran dalam pelayanan bagi orang kecil dan pinggiran, termasuk pengungsi dan migran," ungkap Pater Propinsial dalam konsultasi. Dorongan dan restu Pater Propinsial ini meneguhkan tekat saya untuk mewujudnyatakan spiritualitas SCJ dengan melayani mereka yang kecil dan miskin.
Tim Relawan melayani warga migran yang berlatar belakang berbeda-beda, baik dalam hal agama, suku, maupun golongan. Beberapa anggota Tim sempat meragukan hal ini karena khawatir akan dicap kristenisasi atau mendapatkan reaksi negatif. Dalam investigasi, tim berkunjung ke setiap rumah dan menyampaikan niatnya untuk membantu warga tanpa membedakan apapun. "Apapun dan dari manapun Tim Relawan Kemanusiaan, kami tidak peduli. Yang kami rasakan, Tim ini adalah kiriman Tuhan. Kami berterima kasih bahwa masih ada orang yang peduli. Sebelum bertemu dengan Tim Relawan, kami merasa bahwa kami ini orang buangan yang tidak dipedulikan orang lagi. Rasanya seperti di Nusa Kambangan," ungkap warga dalam sarasehan. Ungkapan inilah yang mendorong kami untuk melanjutkan niat kami ini.
Subyek pelayanan kami adalah orang kecil dan pinggiran dari berbagai latar belakang agama, suku dan golongan. Karena itu, dalam melayani, Tim tidak 'mengibarkan bendera Katolik', bahkan para suster berpakaian biasa (preman) waktu melakukan pelayanan. Meskipun demikian, warga tetap mengetahui bahwa beberapa anggota tim ini adalah pastor dan suster.
Diperlukan cara tersendiri untuk melakukan kontak lintas latar belakang seperti ini. Ada seni tersendiri untuk berkomunikasi dengan orang Timor Timur, dengan orang Muslim NU yang modin / uztad, juga dengan suku asli Komering. Dalam komunikasi seperti ini, sangat terasa suasana persaudaraan sejati yang tidak dihalangi oleh pengkotak-kotakan karena agama, suku maupun golongan. Keadaan ini sangat bersesuaian dengan seruan Gereja dalam Populorum Progressio artikel 86, "…mendengar seruan bangsa-bangsa yang menderita. Kita melayani pribadi manusia, saling berbagi kekayaan yang dilandasi persaudaraan sejati, bukan kepentingan diri sendiri, dan sebagai tanda penyelenggaraan ilahi yang penuh cinta kepada semua orang."
bersambung………
L. Purwanto SCJ
0 Comments:
Post a Comment
<< Home