Wednesday, March 15, 2006

Pemulihan

FRANCESCO DUCI SCJ

PEMULIHAN KITA DALAM KRISTUS
[1]


Dalam prasaran ini kami ingin menyajikan beberapa pertimbangan mengenai tema “pemulihan”. Tema itu perlu diberi dasar teologis yang lebih kokoh, sama halnya seperti seluruh devosi kepada Hati Kudus. Ini perlu diperhatikan khususnya oleh lembaga-lembaga religius yang berlindung pada Hati Kudus dan tetap memandang pemulihan sebagai unsur panggilan khas mereka, juga waktu mereka membaharui Konstitusi mereka sesudah Vatikan II. Sejumlah lembaga lain mengakui bahwa pemulihan menjadi salah satu motivasi mereka untuk karya pastoralnya.
Pemulihan itu segi yang paling khas dalam devosi kepada Hati Kudus. Paling tidak begitulah penilaian Paus Pius XI dalam Ensiklik Miserentissimus Redemptor.[2] Ensiklik itu ditulis pada tahun 1928 untuk menegaskan kepada seluruh Gereja “kewajiban untuk memmberikan pemulihan yang selayaknya kepada Hati Mahakudus Yesus”. Pius XI malahan sampai mengatakan bahwa devosi kepada Hati Kudus mengandung seluruh agama kristen dalam dirinya, lalu menunjuk kepada pemulihan sebagai unsur yang paling sesuai dengan asal-usul dan hakekat devosi kepada Hati Yesus.[3]
Sudah banyak yang terjadi dalam Gereja sejak Pius XI menulis Miserentissimus Redemptor. Ternyata semangat Gereja untuk melakukan pemulihan, sebagaimana diminta Pius XI, sudah meluntur. Dan memang sudah terjadi perubahan-perubahan besar dalam Gereja selama 70 tahun terakhir ini. Gereja sekarang peka ‘akan hal-hal lain, memperhatikan tema-tema lain, memandang masa depan dengan mata yang lain. Perubahan itu juga terjadi dalam bidang spiritualitas dan penghayatan.
Tentu kami tidak mau membicarakan semua perubahan yang telah terjadi, untuk memeriksa bagaimana masing-masing perubahan itu mempunyai pengaruh positif atau negatif terhadap pemulihan. Namun satu perubahan pantas kami garisbawahi: Gereja telah menemukan kembali liturgi sebagai pusat hidup Gereja, dan Vatikan II sangat menekankan itu. Perhatian untuk liturgi itu mempunyai akibat pada banyak orang, yaitu bahwa devosi-devosi ditinggalkan, termasuk devosi kepada Hati Kudus. Akibat itu sebenarnya tidak dimaksudkan. Vatikan II memandang devosi-devosi sebagai suatu kekayaan bagi Gereja yang perlu dipertahankan; hidup rohani tidak terdiri hanya atas liturgi resmi saja. Vatikan II tidak mau membuang devosi-devosi, tetapi mengatasi jurang antara liturgi resmi dan hidup rohani pribadi. Vatikan II ingin supaya devosi diharmonisasikan dengan liturgi, supaya liturgi menjadi puncak dan sumber seluruh hidup kristiani.[4]
Vatikan II ingin mengatasi pemotongan hidup kristiani menjadi seribu satu unsur yang berdiri sendiri-sendiri. Itu juga yang mendorong kami dalam menulis prasaran ini. Undangan Allah untuk memberikan silih tidak hanya datang dari penampakan Kristus kepada Santa Margareta Maria, bukan hanya juga dari Pimpinan Gereja, tetapi juga langsung dari salib Kristus. Wafat Yesus, itulah silih agung kepada Bapa, yang tetap dikenangkan dalam Ekaristi. Maka pemulihan itu bukan suatu devosi tambahan, melainkan bagian dari penghayatan kristen mengenai salib dan Ekaristi.

1. Bukan Silih Atas Dosa, Melainkan Cinta Kasih Pemulih

Pertama-tama perlu kita bersihkan faham pemulihan. Sebab sering kali ada pandangan bahwa pemulihan terdiri atas dua hal: (a) Yang pertama ialah mencintai Allah yarig maharahim yang ditolak oleh manusia yang berdosa. (b) Sebagai unsur kedua ditambahkan, dengan tekanan lebih atau kurang kuat, bahwa pemulihan itu juga pelunasan hukuman untuk dosa, yang menjadi kewajiban karena keadilan Allah menuntutnya, dan yang semestinya dijalankan oleh pendosa, tatapi dilunasi bagi pendosa oleh orang yang memberikan pemulihan (expiation, silih).
Unsur terakhir itu, silih, bahkan sering dipandang sebagai unsur yang paling khas dan penting. Malahan kata reparation itu sendiri memuat unsur kedua itu, sebab reparation dalam bahasa-bahasa Eropa berarti memberikan penyeimbangan yang menurut keadilan diperlukan kalau orang merugikan sesamanya secara fisik atau moril, atau juga menjalankan hukuman yang adil.[5]
Unsur kedua itu memandang hubungan dengan Allah dengan kacamata hukum, keadilan, dan hukuman. Dari mana cara berpikir itu? Dari teologi skolastik mengenai penebusan. Menurut teologi itu mustahillah dosa dihapus sepenuhnya kalau tidak dijalankan hukusan (expiation), entah oleh pendosa sendiri atau oleh orang lain ganti dia (substitution). Sebab - begitulah argumentasi teologi skolastik - dosa mengacaukan orde[6] yang telah ditetapkan dengan adil oleh Allah, lagi pula melukai hak Allah atas hormat makhluk; maka orde tidak dapat dipulihkan dengan bertobat saja; perlu juga bahwa dijalankan hukuman yang adil; dengan demikian dipenuhi baik keinginan cinta kasih Allah (yang wau mengampuni) maupun tuntutan keadilanNya (yang menuntut pemberesan).
Teologi skolastik itu masih banyak berpengaruh dalam Gereja, baik dalam katekese dan khotbah, maupun dalam pandangan mengenai penderitaan: orang kristen sering memandang penderitaan sebagai hukuman atau “pembalasan” untuk dosanya. Pandangan teologi skolastik itu juga dipakai untuk menjelaskan sakramen tobat, dan khususnya kewajiban tapadenda (satisfaction) dalam sakramen tobat, lagi pula api penyucian, indulgensi (aflat), kematian, dlsb. Salib Kristus pun telah ditafsirkan menurut skema pembalasan itu: Banyak teolog skolastik berpandangan bahwa alasan mengapa wafat Yesus dapat menebus dunia bukan hanya cinta kasih Yesus yang rela menerima wafatNya untuk kita, tetapi juga karena Kristus telah rela menanggung penderitaan yang amat berat, demikian berat sehingga seimbang dengan jumlah semua hukuman yang semestinya dijalankan oleh semua manusia karena semua dosa mereka. Dengan demikian Yesus melunasi seluruh hutang bangsa manusia kepada Allah. Malahan ada teolog yang merasa bahwa Allah telah mengenakan hukuman sungguh-sungguh kepada Yesus, karena Yesus sungguh memikul dosa dunia, maka haruslah juga dijalankanNya hukuman yang sepadan dengan semua dosa itu.
Terpengaruh oleh pandangan teologis itu, semua tema Kitab Suci dan liturgi mengenai korban ditafsirkan menurut teologi itu (“korban”, “silih”, “immolation”, “victim”, dlsb.). Demikian pula tema teologis satisfaction yang terus dipakai dalam teologi dan magisterium Gereja sejak Santo Anselmus ditafsirkan dalam rangka yang sama.
Pandangan teologis itu juga mewarnai faham yang muncul dalam devosi Hati Kudus, terutama sejak abad XVII, yaitu “pemulihan” (reparation). Namun, syukurlah, dalam rangka devosi kepada Hati Kudus lebih banyak ditekankan cinta kasih daripada pelunasan hukuman. Pius XI dalam Ensiklik Miserentissimus Redemptor memandang “pemulihan” dalam devosi kepada Hati Kudus dengan kacamata teologi skolastik itu: “pemulihan” terus-menerus disamakannya dengan expiation dan satisfaction, dan menurut Pius XI pemulihan berarti jugs “memberikan penyeimbangan untuk hak Allah yang telah dilukai ... memuaskan tuntutan Allah yang adil yang menuntut balasan untuk dosa ... memulihkan ketertiban yang telah dirusak oleh dosa dan dengan demikian anenghilangkan dosa sepenuhnya”.[7]
Hubungan antara dosa dan hukuman itu rumit dan tidak dapat dibahas lebih lanjut di sini. Yang kita perhatikan ialah: Mengapakah pertobatan dan cinta kasih mengandung penderitaan. Bahwa pertobatan dan cinta kasih membawa serta penderitaan adalah nyata dari pengalaman. Mengapakah demikian? Karena Allah telah menetapkan bahwa dosa harus diseimbangi oleh hukuman sebelum dapat diampuni?
Teologi masa kini mempunyai banyak alasan untuk meragukan teologi skolastik tradisional mengenai penebusan. Satu alasannya ialah: Teologi itu membayangkan Allah sama dengan seorang hakim manusiawi yang menetapkan hukunan sepadan untuk setiap pelanggaran. Sudah waktunya untuk mempermasalahkan tepatnya model manusiawi itu. Alasan kedua dan lebih penting ialah: Teologi skolastik itu membuat pemisahan antara keadilan Allah dan kerahiman Allah, seakan-akan itu dua sifat yang satu di samping yang lain, masing-masing dengan tuntutannya sendiri yang mutlak harus dipenuhi. Pandangan itu tidak cukup mengindahkan kesatuan kepribadian Allah, bahkan menggambarkan semacam perlawanan dalam jiwa Allah antara keadilan dan kerahimanNya.
Teologi skolastik itu sebaiknya kita tinggalkan. Jangan kita bayangkan bahwa hukuman datang dari luar, ditambahkan oleh Allah untuk membalas dosa, entah karena itu disenangiNya atau karena Ia terpaksa harus membalas. Hukuman itu ada, tetapi merupakan konsekuensi yang logis (dan adil) dari dosa itu sendiri. Kalau seorang memilih dosa, menjadi terikat pada dosa, entah karena kecenderungan spontannya atau karena pilihan personalnya, maka pelepasan dari egoisme itu tidak dapat terjadi tanpa penderitaan. Sebab perlu suatu perubahan jiwa, rasa tertarik pada dosa (minimalisme, egoisme, ketidakadilan dlsb.) harus diatasi dengan susah payah, dan dengan susah payah harus dibina jiwa yang lebih baik. Lagi pula, setiap manusia ikut bersama seluruh bangsa manusia dalam situasi historis-sosial yang ditandai oleh penderitaan fisik dan kejahatan moral.
Penderitaan manusia bukanlah hukuman tambahan oleh Allah, melainkan konsekuensi dosa itu sendiri dalam hati manusia dan masyarakat. Penderitaan menandai pertobatan dan cinta kasih,[8] maka juga pemulihan. Tetapi pemulihan tidak menuntut bahwa kita merelakan diri untuk menjalankan hukuman ekstra, untuk kita sendiri atau untuk orang lain. Yang mendorong kita untuk menjalankan pemulihan bukan suatu keharusan bahwa dosa harus diseimbangkan dengan penderitaan yang sepadan, melainkan hanya cinta kasih kepada Allah dan sesama.

Cinta kasih pemulih[9] mempunyai suatu nada yang khas yang membedakannya dari berbagai bentuk cinta kasih kristiani lain dan yang menyangkut devosi kepada Hati Kudus:
(1) Perhatian untuk Hati Allah (yang diwahyukan dalam Kristus), dengan tujuan supaya kita mengagumi misteri cinta kasihNya dan supaya kita mengambil bagian dalam kesedihan Allah waktu Ia melihat kemalangan manusia, dan dalam sukacitaNya kalau manusia dibebaskan dari yang malang dan jahat;
(2) Pembaktian diri kepada saudara-saudara, khususnya mereka yang paling berdosa, dengan tujuan supaya kita ikui merasa bersama mereka dan mewakili mereka di hadapan Allah.

Kedua kepekaan itu selalu bersatu, tidak dapat dipisahkan.
Mengenai penderitaan yang secara otomatis terjadi kalau orang mencintai dalam suasana pemulihan (atau yang dipilih dengan suka rela demi pemulihan), penderitaan itu juga menjadi cinta kasih. Sebab penderitaan itu dihayati sebagai ikut ambil bagian dalam sengsara Kristus dan ikut dalam penderitaan sesama manusia. Dalam tangan Allah, penderitaan itu menjadi sarana yang ampuh untuk melepaskan manusia dari keterikatannya pada yang jahat. Lagi pula, bahwa cinta kh diiringi dengan penderitaan membuktikan bahwa cinta kasih itu sejati dan mendalam, dan menjadi kesempatan untuk mencintai semakin total.

2. Pemulihan Kita di dalam Kristus

Berhubung dengan pemulihan, Injil mewartakan kabar gembira yang membahagiakan: Kepada cinta kasih Allah telah diberi pemulihan, pemulihan yang tak terbatas, atas nama semua manusia, oleh manusia Yesus Kristus.
Warta gembira itu semestinya selalu kita ingat kalau kita berbicara mengenai pemulihan, sebab hanya pemulihan oleh Kristus mampu untuk sampai pada hati Allah, dan dengan demikian memungkinkan pemulihan kita.
Mungkin saja salah satu sebab mengapa cinta kasih pemulih kurang laku akhir-akhir ini ialah bahwa dulu tidak cukup jelas ditekankan bahwa pemulihan kita selalu terjadi lewat salib Kristus. Kalau itu dilupakan, kitalah yang harus memberikan pemulihan, padahal kita begitu kecil dan berdosa dan tidak mampu, maka kita mudah akan menjadi kecil hati atau merasa menyombongkan diri kalau kita menganggap diri kita mampu memberikan pemulihan untuk dosa manusia lain. Lalu pemulihan ditinggalkan dan kita membatasi diri pada suatu sistem hidup rohani yang biasa-biasa saja.
Sebaliknya, perlu memusatkan seluruh perhatian kepada Kristus. Dari Dialah kita menerima segala-galanya, termasuk pemulihan kita. Kristuslah satu-satunya Pemulih yang berkenan kepada Bapa.[10] Kristuslah yang berjalan di depan kita dalam perziarahan Gereja (bd. Ibr 12:2) dan memanggil Gereja untuk berjalan dengan semangat yang sama seperti Dia. Pemulihan oleh Kristus memungkinkan pemulihan kita, dan pemulihan kita bersifat “mengikuti Kristus.”
Faham pemulihan sebagai “mengikuti Kristus dalam pemulihannya” itu tidak seluruhnya cocok dengan pandangan tradisional mengenai pemulihan. Menurut pandangan tradisional yang biasa ada dua pemulihan: (a) pemulihan kepada Bapa yang diberikan oleh Kristus dengan wafatNya, dan (b) pemulihan kepada Kristus yamg diberikan oleh Gereja. Secara teoretis memang dapat dikatakan bahwa pandangan tradisional itu dan pandangan kami mengenai pemulihan sebagai mengambil bagian dalam pemulihan Kristus tidak saling bertentangan. Karena Gereja tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan Kristus tidak dapat dipisahkan dari Trinitas, maka cinta kasih pemulih yang diarahkan kepada Kristus juga sampai kepada Bapa. Tetapi itu pertimbangan teoretis. Dalam prakteknya, secara tradisional dirasakan bahwa ada dua pemulihan, dan bahwa pemulihan yang diperhatikan dalam devosi kepada Hati Kudus ialah pemulihan yang kita berikan kepada Kristus yang dilukai HatiNya oleh dosa.
Pandangan tradisional itu kurang sempurna, karena terlalu banyak melupakan bahwa Kristus adalah Putera Allah dan karyaNya adalah karya seluruh Trinitas.[11] Menurut kami itulah segi yang paling lemah dalan teologi tradisional mengenai Hati Kudus dan lebih lagi dalam devosi umat. Menurut penggambaran biasa dalam devosi kepada Hati Kudus, Kristus mewahyukan diriNya sendiri (misalnya kepada Margareta Maria), Ia berbicara tentang cinta kasih dan penderitaan hatiNya sendiri dan minta pemulihan kepada diriNya sendiri. Penggambaran itu berat sebelah, kurang sesuai dengan gambaran Injil,[12] dan kurang sesuai dengan ajaran Gereja mengenai Allah Tritunggal: Cinta kasih Kristus tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan cinta kasih antara Bapa dan Putera yang mencintai dan bersatu satu sama lain dalam Roh Kudus. Maka juga devosi kepada Hati Kudus tidak dapat berhenti pada Kristus saja, tetapi dalam Kristus harus sampai Bapa dalam Roh Kudus.
Satu pertimbangan yang memperkuat argumentasi kami bahwa devosi kepada Hati Kudus harus mengarahkan diri kepada Bapa dalam Kristus dapat diambil dari liturgi. Waktu Gereja menetapkan Hari Raya liturgis resmi untuk merayakan Hati Kudus Yesus, Gereja mengangkat devosi kepada Hati Kudus menjadi ibadat resmi Gereja. Maka liturgi menjadi salah satu patokan untuk penghayatan devosi itu. Nah, dalam liturgi umat jarang berdoa langsung kepada Kristus; biasanya doa diarahkan kepada Bapa, di dalam dan melalui Kristus. Sebab dalam liturgi Kristus berperan sebagai imam, sebagai pengantara antara Allah dan kita, bukan sebagai alamat terakhir. Maka, supaya devosi kepada Hati Kudus sesuai dengan liturgi, Kristus harus lebih jelas disadari sebagai Pengantara: devosi kepada Hati Kudus itu bukan suatu komunikasi cinta kasih antara Kristus dan kita saja, tetapi komunikasi cinta kasih antara kita dan Bapa bersama dengan dan di dalam Kristus Imam-Pengantara-Pemulih.
Segi trinitaris itu juga perlu disadari, kalau devosi kepada Hati Kudus tetap mau digabungkan dengan Ekaristi. Dalam Ekaristi dihadirkan wafat Kristus sebagai persembahan penyelamat kepada Bapa, maka juga devosi ekaristis kepada Hati Kudus harus mengikuti arah itu.
Kami tidak membantah bahwa devosi pribadi, juga dalam bentuk tradisional sebagai komunikasi antara aku dan Kristus saja, mempunyai suatu makna. Namun, menurut kata Vatikan II, Ekaristi adalah “puncak dan sumber” kehidupan Gereja (SC 13), termasuk spiritualitas pemulihan. Maka jangan kita mempertahankan dua model pemulihan, yang satu lepas dari yang lain, yaitu model liturgis (pemulihan bersama Kristus kepada Bapa) dan model devosi tradisional (pemulihan oleh kita kepada Kristus).

3. Pemulihan Kristus di Salib

Salib itu bukan karya Kristus saja. Allah Bapa dan Roh Kudus ikut terlibat di dalamnya. Wafat Yesus adalah suatu dialog mendalam antara Allah dan bangsa manusia, di mana Allah memberikan dan manusia menyambut keselamatan. Dalam dialog itu Kristus berperan sebagai pengantara, karena selaku Putera Ia ada di pihak Allah dan selaku manusia Ia ada di pihak kita. Dalam diri Yesus, dalam sikapnya sebagai Hamba Yahweh dan sekaligus sebagai palayan manusia terjadi perdamaian dan hubungan baru dengan Allah (Perjanjian Baru).
1. Salib dan Trinitas. Menurut iman Perjanjian Baru,[13] wafat Yesus adalah tindakan Trinitas, perwahyuan cinta kasihNya dan sarana untuk menganugerahkan persekutuan dengan Trinitas kapada dunia. Pertama-tama Trinitas ilahi menempuh jalan salib, turun kepada manusia untuk bertemu dengan kita. Kesengsaraan Kristus adalah sekaligus kesengsaraan Bapa yang mau ikut dalam situasi maut manusia dalam diri PuteraNya yang menjadi manusia dan disalibkan. Salib menyatakan betapa Allah “meninggalkan” diriNya sendiri untuk bersatu dengan dunia yang dicintaiNya; dengan demikian Allah memperlihatkan inti hatiNya, cinta kasihNya yang mau memberikan diri kepada pribadi lain dan untuk itu ikut dalam situasi pribadi lain itu.
2. Salib manusia. Tawaran cinta kasih ilahi memperoleh jawaban dalam wafat Yesus. Yang menyambutnya ialah manusia Yesus yang disalibkan itu. Ia menyambutnya atas nama semua manusia, karena Yesus adalah Putera Allah dan Adam Baru, maka Ia mempersatukan seluruh bangsa manusia di dalam diriNya, sehingga Ia dapat mewakilinya dan bertindak atas namanya di hadapan Bapa. Dalam diri Kristus di salib bangsa manusia bertemu dengan misteri cinta kasih Allah dan menyambut anugerah persekutuan ilahi.
Penyambutan persekutuan ilahi ditandai oleh situasi kedosaan. Bangsa manusia yang diwakili oleh Kristus bukan bangsa yang beres di hadapan Allah. Sejarahnya sudah panjang, penuh perlawanan dan penjauhan dari Allah, penuh pemberontakan, tidak mau mengakui Allah dan tidak mau membiarkan diri dicintai oleh Allah. Dari bangsa manusia itulah Kristus menjadi anggotanya (dengan konsekuensi juga bahwa Ia dibunuh). Bagi bangsa manusia itulah Kristus rela memberikan hidupNya.
Oleh karena itu ketaatan Kristus kepada Bapa tidak hanya merupakan penyambutan anugerah ilahi begitu saja, tetapi penyambutan yang bersifat pemulihan, yaitu: kembali dari kejauhan kepada Allah; kembali dari sikap tidak mempedulikan Allah kepada pengakuan akan Allah dan sembah sujud kepadaNya; melepaskan sikap melawan; permohonan supaya semua dosa diampuni; penyesalan atas penderitaan yang telah disebabkan oleh dosa bagi Bapa; pemberian cinta kasih yang sebelumnya tidak diberikan; solidaritas dengan para saudara pendosa, ikut menderita bersama mereka, melibatkan diri demi pembebasan mereka. Itulah yang disadari Yesus dalam batinNya, itulah yang dimaksudkanNya waktu Ia dengan rela mengorbankan diri demi kepentingan Allah dan kepentingan manusia, itulah pemulihan yang terjadi di salib.[14] “Spiritualitas” atau pengahayatan batin Yesus ialah pemulihan.
Tidak ada orang lain yang dapat memberikan pemulihan atas nama semua manusia, selain Putera yang tidak berdosa, yang berkenan kepada Bapa, anak domba tanpa cacat yang mengangkut dosa dunia. Dengan memberikan pemulihan, Kristus bekerja sama dengan Trinitas demi keselamatan kita.
Pemulihan itu tidak mendahului dan tidak menyebabkan belaskasihan dan pengampunan Allah, seakan-akan pemulihan itu suatu prestasi yang dituntut sebelum Allah mau berdamai dengan manusia. Pemberian-diri dan pengampunan Allah tidak bersyarat. Pemulihan itu bukan prasyarat cinta kasih Allah, melainkan sikap batin manusia yang menjiwai penerimaan pemberian-diri Allah. Membalas cinta kasih Allah dalam situasi kedosaan selalu bersifat pemulihan.
Itulah pemulihan yang dinantikan Allah, yakni bahwa manusia kembali pada cinta kasih. Allah tidak menuntut suatu pembayaran untuk menyeimbangi dosa manusia. Kalau cinta kasih dilukai, satu-satunya obatnya ialah cinta kasih. Ayah dari “anak yang hilang” itu terpenuhi seluruh keinginanNya waktu anakNya kembali ke rumah. Ia tidak meminta sesuatu yang lain. Allah tidak membalas dendam, keadilanNya pun tidak menuntut siksaan untuk “menyeimbangi” pengganguan harmoni.
Pemulihan yang dilakukan oleh Gereja, baik dalam Ekaristi maupun dalam devosi-devosi, mengambil bagian dan mengikuti pemulihan oleh Kristus. Karena pemulihan kita menjadi bagian dari Dia, maka pemulihan kita berkenan kepada Allah dan sampai pada Allah. Dan tidak ada bau seakan-akan manusia berprestasi di hadapan Allah.
Tentu perlu juga supaya Gereja memberikan cinta kasih pemulihanya kepada Hati Kristus yang telah dilukai sampai mati oleh kekerasan hati manusia dan ketidaksetiaan mereka yang telah ditebus.

4. Pemulihan untuk Para Saudara

Untuk mengambil bagian dalam penyelamatan lewat salib tidak cukup kalau hanya diperhatikan segi vertikal, yaitu supaya cinta kasih Allah dibalas. Kristus dapat membalas cinta kasih Allah atas nama seluruh bangsa manusia, karena Ia sungguh bersatu dengan mereka. Solidaritas dengan dunia pendosa itulah yang menyebabkan bahwa Kristus tidak hanya bertindak demi kepentingan dunia, tetapi dunia juga hadir dalam pemulihanNya.
Banyak orang kudus dan juga umat biasa selama sejarah Gereja menghayati cinta kasih pemulih menurut teladan Kristus itu. Mereka membuka diri bagi saudara-saudara mereka, dari bentuk yang paling sederhana, yaitu doa untuk sesamanya, sampai sungguh “mewakili” mereka di hadapan Allah. Sungguh amat besar solidaritas mereka, buah sejati Roh Kudus. Namun suasana umum umat banyak dalam hal keselamatan bukan solidaritas, melainkan: “Urusilah urusanmu sendiri.” Mereka belum cukup menerima pesan salib. Mereka belum cukup mengerti bahwa Cereja adalah satu tubuh, di mana para anggota hidup demi keselamatan saudara-saudaranya.
Pada masa lampau, pemulihan kadang-kadang digambarkan seakan-akan para pemulih mengelilingi Yesus, supaya Ia melihat cinta kasih mereka dan tidak usah melihat para pendosa. Gambar itu salah. Kristus justru datang di dunia ini untuk mencari kaum pendosa, dan untuk mereka Ia rela mati. Pemulihan tidak mau menjauhkan para pendosa dari hadapan Kristus, tetapi justru menghadirkan mereka, mewakili mereka. Waktu Yesus bergantung di salib, Ia tidak bersikap: “Inilah Aku, ya Bapa, satu-satunya manusia yang pantas bagiMu, terpisah dari para perdosa”, melainkan: “Inilah Aku, manusia yang rendah yang bersatu dengan semua manusia lain dan ikut memikul dosa mereka.” Demikian pula kita sebagai pemulih mencintai sesama kita sampai sungguh terjadi suatu identifikasi. Kita tidak merasa diri sebagai “orang suci yang melahan rela melunasi hutang para pendosa”, melainkan sebagai terlibat dengan mereka; dosa mereka menjadi beban kita juga. Dengan demikian mereka hadir di dalam diri kita di hadapan Allah.
Itulah yang telah dibuat oleh Kristus di salib bagi kita semua. Itulah juga yang dapat kita buat; berkat anugerahNya. Roh Kudus yang mempersatukan kita dengan Kristus dalan baptisan, sekaligus memungkinkan kita untuk mengambil tanggung jawab juga untuk para saudara kita. Dengan menerima tanggung jawab itu, kita dalam arti tertentu memberikan hidup kita bagi saudara-saudara kita, sebagaimana telah dibuat oleh Kristus, dan kita mengambil bagian dalam salibNya, dengan melengkapi dalam daging kita apa yang masih, kurang pada penderitaan Kristus (bd. Kol 1:24). Kristus adalah Hamba Allah yang menderita dan memikul dosa umatNya. Pemulihan meniru dan mengaktualkan itu di dalam Cereja.
Kita tidak dapat memahami sampai di mana kita dapat menjadi “identik” dengan sesama kita. Tetapi kalau kita ingat akan solidaritas Kristus dan akan daya Roh Kudus yang mempersatukan manusia, maka persatuan dengan sesama dapat menjadi jauh lebih mendalam daripada yang dibayangkan manusia.
Akhirnya kami ingin mencatai bahwa pemulihan bagi saudara-saudara kita bukan jalan satu arah saja. Barangsiapa yang memberikan cinta kasih dan solidaritas kepada saudaranya, dia juga memerlukannya dari saudara-saudaranya. Tidak seorang pun adalah self-sufticient dalam hal keselamatan, bahkan orang “suci” tidak. Kita semua hidup dalam kedosaan, kita semua memerlukan penebusan dan bantuan Kristus dan bantuan Gereja. Gereja adalah sakramen penyelamatan yang diperlukan oleh setiap orang, termasuk kita. Keselamatan setiap anggota Gereja bukan urusan pribadi antara dia dan Allah, tetapi terjadi dengan seribu hubungan di dalam Tubuh Kristus. Gereja adalah “persekutuan para kudus”, maka dalam Gereja tidak ada apa-apa yang menjadi “milik pribadi” yang tidak dibagi bersama orang lain. Kita memikul beban yang satu bagi yang lain.

5. Pemulihan dalam Arti Menyeluruh

Inti pemulihan ialah cinta kasih kesetiakawanan kepada saudara-saudara yang memerlukan pertolongan. Kalau demikian, bukan hanya kebutuhan religius mereka, tetapi juga kebutuhan-kebutuhan fisik dan sosio-budaya mereka menjadi keprihatinan kita: Yesus sendiri memberikan teladan dalam hal ini.
Pada masa lampau pemulihan biasanya hanya memperhatikan kebutuhan “rohani”, bukan yang “duniawi”. Sebab pandangan kristen waktu itu masih dipengaruhi oleh suatu dualisme yang mengunggulkan yang “rohani” dan meremehkan “yang duniawi-fana”. Sekarang ini kita sudah sadar lagi bahwa keselamatan menyangkut seluruh manusia, bukan hanya “jiwanya”. Pimpinan Gereja dan teologi mengatakan itu dengan jelas. Kita semua sudah sangat sadar akan itu. Tidak ada bahaya lagi bahwa kita jatuh dalam suatu “spiritualisme” seperti halnya abad-abad yang lampau. Mungkin saja yang menjadi bahaya roasa kini ialah kebalikannya: Bahwa kebutuhan “duniawi” para saudara kita diberi begitu banyak perhatian, sehingga tidak cukup diperhatikan lagi kebutuhan mereka dalam hal hubungan dengan Allah.

6. Kesimpulan

Dekrit Vatikan II Perfectae Caritatis menguraikan prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam pembaharuan hidup religius, dan untuk itu menganjurkan dua jalur: yang pertama, kembali kepada “inspirasi asli” pendiri, yang kedua, ‘menyesuaikan inspirasi itu dengan situasi zaman yang berubah”.
Itulah yang telah kami usahakan dalam uraian ini, dengan mencoba untuk memikirkan kembali pemulihan (yang menjadi bagian spiritualitas berbagai lembaga religius) dalam rangka teologi modern.
Pemulihan tidak harus dibuang, dan juga tidak harus beraifat devosi pinggiran, suatu “tambahan” pada iman kristen “biasa”. Teologi modern menjelaskan bahwa pemulihan itu merupakan suatu segi dari inti iman kita.
1. Inti pemulihan harus tetaplah kepekaan akan cinta kasih mesra Allah dan Kristus dan keinginan untuk membalas cinta kasih itu. Seandainya ini dilupakan atau ditinggalkan, serikat religius tidak lagi setia kepada asal-mulanya dan kepada karisma pendirinya. Seandainya pemulihan disamakan dengan kesibukan pastoral saja, maka itu bukan spiritualitas atau pemulihan lagi.
2. Pembaktian kepada sesama menusia sangat penting dalam spiritualitas pemulihan. Dan memang tidak bisa lain, karena pemulihan mengalir dari renungan mengenai Kristus yang memberikan hidupNya demi keselamatan semua manusia. Maka orang yang menjalankan pemulihan merasa diri sungguh setia kawan dengan saudara-saudaranya yang berdosa, dan mau menghadirkan dan mewakili mereka dalam dialog penyelamatan antara Allah dan manusia.
3. Nada tradisional, dengan tekanannya pada keadilan, pada hukuman yang harus dilunasi, pada kerelaan untuk menambahkan penderitaan bagi sesama pendosa, dapat dimengerti dalam pandangan teologis lama mengenai penebusan. Namun nada itu perlu dilepaskan, sehingga dengan jelas dihayati inti yang dimaksudkan di belakang “keadilan hukuman korban, pelunasan” itu, yakni bahwa cinta kasih ingin ikut serta dalam sengsara Kristus dan dalam sengsara sanusia.

(Seri Pedoman Hidup 23)
[1] Saduran dari artikel ‘La nostra riparazione in Cristo’ dalam La spiritualità del cuore di Cristo, Edizioni Dehoniane, Bologna, 1990, hlm. 151-163. (Catatan penterjemah)

[2] Pius XI, ‘Miserentissimus Redemptor’, AAS 20 (1928), hlm.l66.

[3] Pius XI, ‘Miserentissimus Redemptor’, hlm. 172.

[4] Sacrosanctum Concilium, nr. 13.

[5] Dalam Bahasa Indo~sia dipakai dua kata: ‘Silih’ pada umumnya berarti ‘ganti, tukar’; kalau silih dipakai untuk menunjuk pada reparatio, orang katolik Indonesia kiranya mengerti: ‘menggantikan orang lain, khususnya menggantikan pendosa dalam kewajiban melunasi hutang dosanya’ (bd. kata expiation dalam Kitab Suci dan tradisi teologis; kata silih itu juga dekat dengan kata substitation dari tradisi teologis skolastik). Kata ‘pemulihan’ berarti ‘mengembalikan pada keadaan semula, keadaan baik’, maka per se tidak menekankan unsur ‘ganti pendosa’, tetapi menekankan perbaikan kembali (sama halnya dengan kata reparatio). (Catatan penterjeaah)

[6] Ketertiban, ordo, keharmonisan semesta alam. (Catatan penterjemah)

[7] Pius XI, Miserentissimus Redemptor, hlrt. 169.

[8] Kalau kita melayani kepentingan orang lain, maka sering kali kita harus menomorduakan atau ‘mengorbankan’ kepentingan dan kesenangan kita sendiri, dan itu berarti suatu penderitaan. Misalnya, ibu yang berjaga pada anaknya yang sakit tidak dapat menikmati tidurnya, dan itu berarti suatu penderitaan, juga kalau ibu itu dengan senang hati memilih untuk berjaga demi anaknya. (Catatan penterjemah)

[9] Kiranya lebih tepat memakai istilah cinta kasih pemulih daripada istilah yang biasanya dipakai dalam devosi kepada Hati Kudus, yaitu Cinta kasih dan pemulihan. Sebab istilah cinta kasih dan pemulihan memberikan kesan seakan-akan pemulihan itu sesuatu yang berbeda dari cinta kasih dan belum tercantum di dalamnya.

[10] Ensiklik Miserentissimus Redemptor secara resmi memberikan gelar Pemulih kepada Maria, karena - demikianlah kata Pius XI - di bawah salib ia telah mempersembahkan Kristus sebagai korban (hlm. 178). Kalau demikian, lebih kuat lagi alasannya untuk memberikan gelar Pemulih kepada Kristus.

[11] Pater Dehon cukup sadar akan itu, berbeda dengan kebanyakan penganut devosi Hati Kudus sezamannya. (Catatan penterjenah)

[12] Dalam Injil, fokus perwahyuan ialah Allah Bapa dan KerajaanNya yang selalu dilayani oleh Kristus tanpa mementingkan diriNya sendiri. Kristus tidak ‘minta perhatian’ untuk diriNya sendiri demi kepuasan HatiNya sendiri, tetapi dengan rela hati senanggung semua yang perlu untuk Bapa dan keselamatan manusia. (Catatan penterjemah)

[13] Misalnya Rom 3:24-25; 2 Kor 5:18-19; Kol 1:19; Ef 1:7, dlsb.

[14] Dua buku kristologi yang akhir-akhir ini menbicarakan pemulihan ialah: J. Galot, La rEdemption mystère d’alliance, Desclée de Brouwer, Paris, 1965; B. Sesboue, Jésus-Christ, I’unique Médiateur, Desclee de Brouwer, Paris, 1988, jilid I (khususnya ‘La réparation, vérité de la satisfaction’, hln 354-356).

0 Comments:

Post a Comment

<< Home